![]() |
| source: http://saidialhady.com |
Tak terkecuali untuk SMA Negeri 1 Medan, sekolah favorit se-kota Medan, bahkan se-provinsi Sumut. Sekolah yang biasa disebut Smansa ini mempunyai musola yang lumayan luas dan indah jika dilihat dari luar. Nama musolanya adalah Ibnu Sina. Musolah ini tentu juga mempunyai pengurus yang disebut Bakmiss (Badan Kemakmuran Musola Ibnu Sina Smansa) yang anggotanya adalah seluruh siswa/i Smansa yang beragama Islam.
Musola Ibnu Sina sering dijadikan tempat rapat, belajar, diskusi, ta'lim, mentoring dan sebagainya. Tapi, selain kegiatan positif yang dilakukan di musola ada juga siswa/i pergi ke musola ketika jam pelajaran. Kegiatan ini biasa disebut "cabut". Yah, musola adalah tempat yang aman dan nyaman untuk cabut. Banyak alasan mereka "cabut".
Kami melakukan wawancara dengan beberapa siswa.
"Menurut anda kenapa musola itu sering dijadikan tempat 'nongkrong'?
Naufal (Anggota Bakmiss): "Orang musola tu ramah-ramah. Jadi enak aja"
Farouq (wakil ketua kelas XI IPA 6): "Menurut saya, sih, musola itu tempatnya cocok dijadikan tempat kita tidur karena nyaman aja"
Vanda(Anggota Departemen Dakwah Bakmiss) : "Hemm... Musolah tu tempatnya strategis. Terus aman dan nyaman. Lagi pula, kalo bukan kita yang berada di musola, siapa lagi?"
Hafiz: "Wah, gak tau ya. Entah kenapa enak aja gitu"
"Menurut anda, apa kelebihan musola Ibnu Sina Smansa dibandingkan dengan musola lain?"
Hafiz (Amir Bakmiss): Wah, kalo Musola Ibnu Sina itu sangat ketat akan batas jarak ikhwan dengan akhwatnya. Pintu masuk ikhwan dan akhwat pun dipisahkan. Dan daerah ikhwan dilarang dimasuki oleh akhwat begitu juga sebaliknya. Kayaknya peraturan ini jarang ada deh.
Demikian artikel kami perbuat.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar